Puisi · Thought

Kata Ganti yang Ganti-Ganti

Ikatan dimulai dari kalimat pengguncang arsy dalam satu helaan napas. Tanda kerelaan terucap sudah.

Kerelaan melepas “aku” menjadi “kita” hingga lebur raga, otak dan rasa. Seni menekan “aku” tidak banyak berlari dalam dominasi dan ego. Semua tau “aku” dan “aku” bermusuhan dengan belenggu maka berbagi sayap  membumbung bersama  menjadikan “aku” amnesia, hingga dua “aku” lebur menjadi “kita”

Kerelaan melepas “kita” menjadi “kami” atau kerelaan tetap menjadi “kita” disaat orang-orang sudah ber -“kami”

Dalam diri bersemayam diri lain yang diam-diam merenggut nutrisi, deru psikis, sekaligus memberi opium candu rindu. Kami bertumbuh dengan tawa, air mata, doa, luka, dan sorak. Hingga “kita” mengurangi menjadi “kita” dan merengkuh  “kami” .

Kerelaan melihat anggota “kami” menjadi “mereka” ketika janji lain terucap. Maka jadilah “kita” kembali dengan rupa berbeda, dengan geletar berbeda. “Kita” yang paham, tidak ada sekedar, gerak alis juga helah napas menunjuk tanda. Hafal sudah karna waktu mengajarkan “kita”

Kerelaan “kita” merenta sambil membolak balik memori yang kadang kabur enggan ditangkap sampai akhirnya salah satu dari “kita” pejam untuk pamit. Maka saat itu “kita” kembali menjadi “aku”

Ahh “aku” dengan kenangan “kita” tidak menjadikan “kita”. Maka “aku” saat itu merindu bertemu “kita” dalam wujud ada. Karna “kita” diikat oleh langit maka disanalah adanya tempat berkumpul kembali.

 

“Aku” yang menerka saat “kita”, “kami”, dan “mereka” ada

Skp, May 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s