About Children · Cerita · Thought

(Bukan) Cinta Monyet

Kalau dipikir-pikir kenapa cinta diusia sekolah selalu identik dengan binatang ya? Seperti cinta monyet atau ada juga yang menyebutnya puppy love. Biasanya juga diiringi cibiran, “ah..paling cuma cinta monyet” apa karna monyet dianggap tidak tau apa itu cinta? tidak bisa memverbalkan cinta? Tapi kenapa bukan binatang lain? Kenapa harus monyet?

Apapun maksud istilah itu, ini kisah cinta seorang anak perempuan usia 7 tahun. Namanya Tita. Ia terlalu serius dan perfeksionis untuk anak seusianya. Saat di Taman Kanak-Kanak, jika lengkung dan tebal tipis tulisan tegak bersambung ciptaannya tidak tepat ia akan berulang kali menghapus dan mengulanginya hingga sering kali bukunya bolong compang camping. Hal yang paling disukainya adalah menggambar, di dinding rumahnya penuh karya seni berbagai macam karakter dengan cerita dibaliknya, saat SD tidak jarang karyanya dipajang di dinding kelas atau sekolah. Baginya warna punya daya pikat tersendiri, crayon dan kertas menjadi benda wajib yang harus dibawa ketika berlibur, itu sudah cukup.

Layaknya magnet yang memiliki kutub berbeda, maka kutub negatif Tita adalah bersosialisasi. Sayangnya, hal itu yang membuat angka 65 dengan tinta merah manis sekali menghias kolom akhir di rapor Tita pada pelajaran perpustakaan.  Pasti sebagian dari kalian akan bertanya-tanya pelajaran macam apa itu? Peraturan dari mata pelajaran ini adalah semakin banyak buku yang dipinjam, semakin baik pula nilainya. Lalu kenapa Tita tidak banyak meminjam buku? Saat melihat raportnya ia mengingat hanya meminjam 2 buku selama caturwulan pertama. Satu buku ketika masa orientasi dicontohkan oleh gurunya bersama temannya yang lain, satu buku lain terpaksa ia pinjam karena ingin sekali membaca cerita tentang bebek, cover bukunya berwarna kuning, itu sisa ingatannya saat ini. Tapi setelah kedua kalinya meminjam dia kapok ke perpustakaan lagi. Pertama ia harus jinjit ketika menyerahkan buku karena meja terlalu tinggi, kedua ia takut dan gugup ketika berbicara dengan penjaga perpustakaan, pada dasarnya ia selalu begitu jika bertemu dengan orang baru.

Rutinitasnya sama dengan anak-anak seusianya, pagi diantar orang tua lalu setelah mencium tangan dan pipi ayah dan ibunya ia belajar hingga sore hari. Kedua orangtuanya bekerja dari pukul 8 pagi hingga 6 malam, itulah yang menjadikan alasan orangtuanya mendaftarkan Tita di full day school yang artinya ia baru boleh keluar sekolah pukul 15.00, agar lingkungan sosialnya tetap terjaga–mungkin itu alasan orangtuanya.Sore hari baginya adalah menunggu dijemput, menunggu sampai akhirnya sekolah lengang. Orangtuanya menitipkan Tita ke tetangga di samping rumahnya, tetangga itu seolah sudah berubah wujud menjadi Bude dan Pak De kandungnya. Awalnya Tita terbiasa menunggu di depan masjid sekolah, karena ia tau Pak De di jam-jam sore sibuk menjual alat elektronik di rumahnya, tapi karena jenuh ia biasa berjalan keliling sekolah. Kaki mungilnya kemana saja sampai jejaknnya menapak juga ke dalam perpustakaan, pikirnya ‘aku mau liat-liat buku saja tidak perlu meminjam dan banyak berbicara dengan orang lain’. Disitulah ia sadar, jika perpustakaan menawarkan banyak warna juga bentuk di tiap lembar buku, dan untuk membaca warna-warna itu ia harus memulai dengan membaca rangkaian huruf di setiap helai kertasnya. Sejak hari itu perpustakaan bukan menjadi tempat yang ia hindari dan buku punya ruang sendiri dalam dirinya. Buku yang ia suka awalnya hanya yang bergambar! Harus. Tapi ia juga akhirnya cinta dengan ensiklopedia anak yang membuat ia ternganga dan ber ‘oohhh…’ ria.

Apa itu cinta? Haruskah diberi imbuhan monyet karna terjadi di masa sekolah? Ya ya ya sebutlah ini cinta saja tanpa monyet, dalam definisi pribadi terminologi ini mengacu pada akibat infinite yang secara simultan memberikan pengaruh positif kepada orang yang dijangkit cinta. Oke itu ribet.

Tapi bagi Tita kecil ini sederhana. Tita memberanikan diri untuk meminjam buku dan menyerahkan kartu anggota perpustakaan untuk di stempel tanggal peminjaman dan pengembalian. Setiap hari ia berusaha menghabiskan buku dan menukarnya dengan buku lain keesokan harinya. Mengejar cap berderet di kartu anggota bisa saja dijadikan salah satu reinforcement positive seperti kata Skinner dalam teori Operant Conditioning. Tapi ternyata tidak hanya itu, hingga kelas 3 ketika jam pulang sekolah akhirnya ia terbiasa membantu penjaga perpustakaan untuk membubuhkan stempel tanggal peminjaman dan pengembalian di kartu anggota perpustakaan lain. Dari sana ia tau bahwa ternyata mengenal teman-teman dari berbagai kelas itu menyenangkan dan tidak semenyeramkan dulu.

Tita di usia hampir 25 tahun tetap sama saja. Tanpa perhitungan mengeluarkan uang untuk buku, kadang impulsif. Dan Tita itu adalah panggilan kecilku ketika usia 3 sampai 5 tahun karena sulit menyebutkan Sisca pada usia itu. Iya Tita itu aku. Menurut Tita dewasa buku itu bukan lagi sekedar warna. Buku itu sejenis bejana dimana tempat manusia menuang isi otak lalu orang lain mencelupkan kepalanya dalam bejana itu hingga akhirnya terjadilah transfer isi kepala! Dan begitulah romantismeku dan buku hingga saat ini masih sama saja rasanya, jadi  bukan sekedar cinta monyet ya.

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

4 thoughts on “(Bukan) Cinta Monyet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s