Thought

yang Katanya; “1/4 Abad”

Usia 25 tahun bukan lagi sekedar momen perayaan kelahiran yang menandakan usia bertambah atau berkurang (dalam definisi lain). Mahluk bumi di usia seperempat abad pastinya punya kesan, sudah sekian banyaknya hari yang dihabiskan dimulai dari membuka mata lalu ditutup juga dengan pejam mata. Kurang lebih sekitar 9.125 hari/ 219.000 jam/ 13.140.000 menit/ 788.400.000 detik. Keliatan kurang kerjaan memang, tapi setidaknya itu menandakan secara kuantitas sudah cukup banyak waktu yang dihabiskan, lalu bagaimana kabar kualitas?

Usia 25 tahun tandanya pernah merasakan hidup suka-suka di masa kecil, menampung afeksi, merengek jika sedih, bermain sesuka hati, mengamuk ingin ini itu namun lingkungan sosial memaklumi, karena aturan emosi dan interaksi masih dalam tahap dipelajari. Beda halnya kalau ada orang usia dua limaan telentang di lantai mall nangis, meraung-raung minta dibelikan gadget pasti minimal satu atau dua orang yang lewat akan mikir dia sehat atau tidak (secara kejiwaan)?

Usia 25 itu, masa pembuktian diri. Sayangnya aturan main makhluk bumi yang bernama manusia tidak bermain di ranah ekspektasi personal saja, tapi realitas sosial! Membangun jembatan penghubung untuk mengurangi jarak antar harap dan kenyataan itu namanya berjuang. Analoginya adalah setiap orang punya satu jembatan yang terdiri atas banyak bilah (bilah pendidikan, pekerjaan, relasi sosial, dan lain lainnya). Semakin jauh jarak antara harap dan kenyataan semakin berkurang kepuasan diri, sebaliknya akan senang rasanya kalau yang terjadi sesuai dengan keinginan. Berkompromi dengan diri sendiri/ orang lain, menggugurkan ego pribadi, mencoba mencocokkan atau akhirnya dicocok-cocokkan dengan kenyataan mungkin sejenis upaya mempertemukan harap dan nyata, tapi masa iya hanya itu?

Usia 25 itu, artinya memilih. Misal memilih pekerjaan.  Tidak semua orang bekerja sesuai dengan apa yang diinginkan, ada yang tuntutan ekonomi, ada yang tuntutan sosial, ada yang tidak sesuai dengan pendidikan, minat, passion. Ada juga yang memilih untuk tidak melibatkan tuntutan ekonomi dan tuntutan sosial untuk mengejar kerja yang sesuai dengan harapan. Ada juga orang yang sudah berjodoh dengan pekerjaannya, karna harapan dan realitas sama, tapi harapan lain seperti bertemu jodoh (dalam arti yang biasa diartikan) belum sesuai di timeline kenyataan. Wait, memilih orang-orang untuk masuk di inner circle merupakan bagian dari proses ini, karena terkadang ada jembatan yang perlu dibangun bersama (bisa jadi relasi pekerjaan, pertemanan dll). Kita diberi buku takdir tapi kita juga diberi kesempatan untuk memilih dan berusaha kan?

Usia 25 itu, siap akan konsekuensi. Karena pilihan itu berakibat, jadi jangan harap setelah memilih urusan selesai. Misalkan konsekuensi pekerja kantoran yang sudah berkeluarga adalah usaha mengefektifkan waktu mencari masa berkualitas untuk keluarga. Atau konsekuensi untuk mereka yang memilih tidak memilih, akibatnya mungkin keyakinan diri menurun karena stagnan. Konsekuensi lain bisa juga muncul dari mulut yang dibantu pita suara, cuap-cuap yang bisa jadi membangun atau bisa juga meruntuhkan. Konsekunsi itu kadang bentuknya bisa jadi pertanyaan dari orang-orang kepo (atau postitifnya diartikan peduli?). Sebut saja pertanyaan; kapan nyebar undangan? Kapan nikah? Udah isi? Kapan nambah anak? Akhirnya jawaban srtandar keluar dengan mimik muka atau senyum terlatih untuk menjawab pertanyaan repetisi karena kadang kita, apalagi cenayang tidak tahu apa jawabannya. Konsekuensi positif pun bisa didapat dari memilih, seperti apresiasi , penghargaan dan kepuasan personal, mungkin ini yang disebut berhasil membuat satu bilah jembatan.. Lalu setelah diapresiasi dan puas apa berhenti?  Konsekuensi akhirnya membentuk cabang pilihan lain kan?

Usia 25 itu, bagian dari siklus berjuang tanpa ujung. “Tanpa ujung” karna ekspektasi dan realita itu utopis untuk disatukan di waktu bersamaan dengan isu kehidupan yang beraneka rupa. Tidak ada manusia yang sempurna, yang hanya ingin lalu terjadi.  Pada akhirnya menuju yang Maha Sempurna lalu hidup kekal di ruang lain setelah dunia adalah pilihan ideal dijadikan tujuan perjuangan para makhluk; baik usia seperdelapan abad, seperempat abad, setengah abad atau mungkin seabad. In the end, mari berjuang dan saling menyemangati sesama pejuang!

 

Ditulis pada 23 Januari 2015, 23:02 atau beberapa bulan lagi memasuki seperempat abad

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s