Cerita

Kerang Mutiara

Kerang mutiara, termasuk dalam kategori molluska atau hewan bertubuh lunak yang bersanding kontradiktif dengan bungkus cangkang keras. Kalau personifikasi bisa menjadikan hewan, tumbuhan, dan benda mati berlaku manusia, boleh ya aku pinjam kerang mutiara jauh dari itu. Aku jadikan dia sebagai analogi pembabakan dalam perjalanan singkat yang memberikan takaran pelajaran yang limpah ruah. Sila lihat tulisanku sebelumnya karena ini berkaitan. Sejujurnya antara risi namun ingin berbagi. Risi karena terlalu personal, rasa lengkapnya ingin dinikmati sendiri (dan atau dengan orang-orang yang terlibat dalam perjalanan ini, dengan orang-orang terdekat saja). Tapi dorongan ingin berbagi informasi dan pandangan dari perjalanan ini kian hari mendesak juga.

Sejujurnya tulisan awalku ada karena aku rindu dengan dia, pada saat itu yakin tidak akan bertemu lagi di dunia setelah mendengar kabar kematiannya. Hilang komunikasi sekian tahun, entah siapa si penyebar awal berita, yang jelas banyaknya orang mengatakan ia sudah tiada menjadikan kabar itu seperti nyata.

Oke sekian lama, aku, kami, percaya.

Persis sehari sebelum Ramadhan ada nomor tidak dikenal menelepon saat menuju perjalanan pulang. Saat itu malam dan lelah, lalu ada telepon tidak dikenal masuk, rasanya ingin langsung reject karna bisa saja itu berujung topik kerjaan. Tapi akhirnya aku angkat juga.

‘Halo Assalamualaikum’ oke suara ibu-ibu.

‘Waalaikumsalam, iya bu, ada apa?’

‘Kak, kapan ke Anambas? Ini Rasid kak, kapan mau main ke sini?’

Terus beku lalu haru lalu setuju pada diri harus kesitu!

Cangkang – Kepulauan Anambas

Kabupaten Kepulauan Anambas adalah pemekaran Kabupaten Natuna yang beribukota di Tarempa. Lima pulau diantaranya merupakan pulau terluar Indonesia yang menjadikan wilayahnya berbatasan dengan perairan internasional dan negara tetangga. Transportasi kesana tidak mudah. Aku memilih memulai dari Tanjung Pinang, selain itu ada rute dari Batam bahkan dari Tj.Priuk. Kenapa Tanjung Pinang? Karena dari Batam dengar kabar modanya jalur udara dan sebut saja itu mahal. Karena dari Tj.Priuk terlalu menghabiskan waktu, 5 hari 4 malam jalur laut yang sebut saja masa cuti habis di atas laut.

Singkatnya dari Tj.Pinang lanjut ferry (VOC Batavia dan Seven Stars Island) yang di sediakan PT.Bintan Global Line. Kapal ini berangkat Senin, Rabu, dan Jumat untuk rute Tj.Pinang-Tarempa dan Selasa-Kamis-Sabtu untuk rute sebaliknya, hanya sekali pemberangkatan setiap harinya dan dengar-dengar kabar kalau angin kencang atau cuaca tidak baik maka jangan harap bisa menyebrang. Lama perjalanan ke Tarempa kurang lebih 9-10 jam, jika ingin ke Letung memakan waktu 8 jam. Hal penting lain adalah menelepon terlebih dahulu PT.Rempang minimal 7 hari sebelum keberangkatan untuk memastikan apakah tiket tersedia atau tidak. Bersyukur aku membayar diawal karena saat menginap di Tj.Pinang bertemu dengan calon penumpang ferry yang akhirnya tidak jadi berangkat karena kehabisan tiket padahal mereka sudah datang ke Tj.Pinang 2 hari yang lalu.

Dulu pernah merasa upload gambar tiket merupakan hal yang agak berlebihan, tapi berkat seseorang yang melakukan itu aku terbantu karena jadi tau kontak agen tiket ferry. Sekarang aku mengikuti jejaknya.
Dulu pernah merasa upload gambar tiket merupakan hal yang agak berlebihan, tapi berkat seseorang yang melakukan itu aku terbantu karena jadi tau kontak agen tiket ferry.
Jadwal Ferry Tj.Pinang-Letung-Tarempa per tanggal 1 Juni 2015
Jadwal Ferry Tj.Pinang-Letung-Tarempa per tanggal 1 Juni 2015
Salah satu ferry (MV.Seven Star Island)
Salah satu ferry (MV.Seven Star Island)
Di dalam ferry MV. Seven Star Island
Di dalam ferry MV. Seven Star Island

Kepulauan Anambas terdiri dari beberapa pulau. Lebih tepatnya ‘banyak’ pulau, dari yang berpenghuni hingga yang tidak. Berada di atas laut Natuna menjadikan penduduk disuguhi hasil laut yang tiada kira. Kalau lapar bermodalkan kail dan senar, ikan atau sotong bisa ditangkap. Saat jalan pagi di Jembatan Semen Panjang (SP) yang menghubungkan Tarempa dengan Antang aku dibuat takjub dengan sotong seukuran anak kucing yang ada di trotoar pinggir jembatan hasil tangkapan laki-laki paruh baya.

Jembatan Semen Panjang
Jembatan Semen Panjang

Buat anak kota yang hidup dengan bangunan, kendaraan, gadget dan hal futuristic lainnya, melewati jembatan itu seperti astral yang konon katanya astral mempertemukan kita pada hal-hal yang tidak biasa. Melihat terumbu, ikan, penyu, bintang laut dan hewan laut di TV, buku, atau bahkan Seaworld rasanya berkali lipat berbeda. Berdiri di jembatan SP, melihat ke kanan-kiri hamparan laut dangkal seolah kaca dengan riak hipnotis yang membuat terumbu seolah bergoyang, koloni ikan melewati bawah jembatan, bahkan penyu pun sempat aku lihat berenang ke arah laut dalam dengan santainya.. Rasanya seperti menyatu, menjadi bagian dari hidup si bintang laut, si kepiting dan kawan-kawannya tanpa border area wisata atau gelas kaca tebal aquarium. Menyatu. Natural sekali atmosfernya, melihat orang-orang santai beraktifitas pagi tanpa jepret kamera dan pekik kagum. Entah bagaimana menggambarkan rasanya, sulit, harus dirasakan sendiri.

Bagian kanan sepanjang Jempatan SP
Bagian kanan sepanjang Jempatan SP

Pernah dengar pulau Bawah? Itu ada di Anambas! Menurut versi CNN Pulau Bawah Anambas merupakan pulau tropis terindah se Asia Tenggara. Pengunjungnya juga jangan ditanya, sebagian besar orang asing. Masuk sana pengawasannya ketat dan tentu-mahal. Selain Pulau Bawah masih banyak Pulau lain yang belum terekspos dan memiliki panorama luar biasa. Pulau Penjalin, Pulau Durai, Pulau Ayam merupakan jajaran pulau lain yang sering dikunjungi wisatawan. Wait, tidak hanya laut, tapi disana juga menyuguhkan air terjun Temburun yang bertingkat-tingkat. Landscape yang luar biasa. Penginapan di Tarempa sudah mulai menjamur dari yang memasang harga Rp.100.000 permalam bisa ditemui disana. Mobilitas darat hanya ada dua; Honda (honda merupakan sebutan untuk motor-merk apapun) dan sepeda. Tidak ada mobil, karena ukuran jalan disana tidak bersahabat dengan ukuran mobil.

Namun pada akhirnya wilayah geografis tetap menjadikan kesenjangan begitu pekat. Aku sempat ke pasar dekat pelabuhan Tarempa, kalau di Jakarta bisa dapat 3 ikat sayur seharga Rp.5000,- disana setara dengan satu ikat ukuran kecil. Mahal. Serba mahal untuk komoditas hortikultura. Aku dapat kenalan yang sama-sama menginap di Tarempa, asal dari Semarang, ke Anambas karena bekerja. Dia memberiku pertanyaan untuk menilai rasa nasi di Tarempa. Rasanya sama atau tidak Mba nasi di rumah sama di sini? Ya memang beda, tapi aku pikir itu cuma masalah cara memasak dan selera saja. Tapi menurutnya, beras di Kepulauan Anambas, Natuna dan sekitarnya memiliki kualitas yang buruk karena sudah lewat masa pakai. Dia pernah bekerja di Midai dan dikatakan nasinya berwarna putih, tidak kuning, tapi rasanya tengik. Di Tarempa masih tergolong cukup baik, tambahnya (perlu di kroscek kebenarannya karena sampai saat ini belum menemukan artikel rujukan yang bisa mendukung statementnya).

Telur penyu. Sepertinya aku harus membahas ini juga. Ada Pulau bernama Durai tempat penangkaran penyu, disana mungkin telur penyu akan aman, zigotpun akan bernyawa. Tapi di beberapa tempat lain jangan harap. Di pasar dan rumah makan telur penyu seperti layaknya telur ayam balado yang biasanya berjejalan di etalase warteg pinggir jalan. Hanya saja memang bentuknya berbeda. Telur ini seukuran bola tenis, penyok, tidak akan pecah, dan berlendir. Harga satu bungkus telur penyu mentah isi 30-35 butir sekitar Rp.40.000-Rp.45.000. Rasanya aku mual, kebayang hari sebelumnya berpapasan dengan penyu saat di jembatan. Untuk hidup menjadi makhluk berjenis penyu tidaklah mudah, mereka memiliki tahap-tahap dalam bertelur hingga menetas. Selain kolesterol dalam telur penyu lebih tinggi puluhan kali lipat daripada telur ayam, kandungan logam berat dalam telur penyu juga berbahaya. Terlalu banyak mitos khasiat tentang telur penyu yang salah. Atas dasar rasa yang enak sepertinya bukan alasan bijak juga untuk menkonsumsinya, mengorbankan hewan langka yang seharusnya menetas namun berujung menjadi kotoran manusia itu semacam mengenaskan. (Artikel bagus tentang penyu dan proses perkembang biakannya)

Telur penyu di salah satu kios Pasar Tarempa
Telur penyu di salah satu kios Pasar Tarempa

Provider yang  cukup baik disana Telkomsel. Indosat hanya dapat satu hingga dua bar sinyal. Internet pun jangan harap bisa dapat di semua tempat. Aku menggunakan Indosat saat itu, mengirim pesan melalui whatsapp atau Line harus dilakukan berulang, jika berhasilpun terkadang delay dan terkirim beberapa menit kemudian.

Mata pencaharian penduduk mayoritas nelayan atau berkaitan dengan mengambil hasil bumi seperti cengkeh dan ikan. Masalah selanjutnya bagaimana cara yang efektif dan efisien untuk menjualnya ke luar pulau? Aku dikenalkan (melalui cerita tentunya) kisah heroik seseorang yang bernama Nato. Pengusaha yang menjadi jembatan antara Anambas-Natuna dan konsumen luar sana. Dia membeli cengkeh juga hasil laut yang di tangkap nelayan. Sebut saja hasil laut itu khususnya ikan Napoleon yang terancam–derajad serius– punah) untuk dijual kembali ke luar negeri. Ikan Napoleon bisa dijual dengan harga fantastis sekitar 1,6-2 juta untuk ukuran 700 gr berkat bibir tebal ikan napoleon yang kabarnya bisa meningkatkan vitalitas pria. Konsumen terbesar ikan yang hanya hidup di beberapa titik perairan Indonesia itu adalah Hongkong dan Tiongkok.

Daging Kerang – Solo Traveling

Berikut beberapa persiapan dan hal-hal yang aku lakukan ketika menjadi solo traveler, aku mencari ilham melalui artikel diinternet dan ngobrol dengan para traveler, dan ini sangat bermanfaat:

  1. Aku sendirian, baru pertama kali ke Tj.Pinang apalagi ke Anambas. Persiapan utama adalah usaha mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, membaca sebanyak-banyaknya tulisan pengalaman orang yang pernah menjelajah Anambas, jika memungkinkan bahkan lebih baik untuk komunikasi dua arah langsung untuk menambah referensi. Browsing gambar-gambar, peta, kontak penting selama perjalanan lalu di combine dengan itinerary untuk divisualisasikan. Jadi saat eksekusi, di perjalanan seperti déjà vu saja karena sudah terlalu banyak membayangkan dan melihat kemungkinan-kemungkinan tempat yang akan dikunjungi.
  1. Membuat jadwal perjalanan, di duplikasi beberapa lembar lalu bagikan ke orangtua dan teman-teman dekat. Itu sangat amat membantu mengurangi kecemasan traveler dan orang terdekat. Rajin berkabar minimal sehari sekali atau kalau rajin di update jika ada perubahan rencana, informasi ini akan membantu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Check in/update di sosmed bisa sangat membantu dan bukan gaya-gayaan, informasi jika kita baik-baik saja itu penting bagi orang terdekat. Tapi penggunaan gadget juga perlu dibatasi agar tidak lengah dan tentunya akan lebih baik kalau kita bisa berbaur dengan lingkungan sekitar.
  1. Barang bawaan disesuaikan dengan waktu perjalanan, kebutuhan, dan mengedepankan asas kepraktisan. Tidak ada yang akan membantu membawa barang dan mengingatkan kelengkapan barang bawaan kita, jadi semakin simple semakin baik karena akan memudahkan mobilitas. Aku membawa carrier 55 L berat sekitar 8-9 kg dan tas kecil untuk perjalanan 7 hari. Baiknya saat berangkat tas disisakanspace kosong sekitar ¼ untuk antisipasi tambahan barang—oleh-oleh. Dia jadi teman baikku selama perjalanan. Nyaman dan mudah diakses jadi tidak perlu membongkar seluruh isi tas untuk mencari barang. Jangan lupa memasukkan first aid kit di list.
  1. Sikap. Bertingkah layaknya orang lokal, tidak menunjukkan ekspresi kebingungan dan jangan mudah percaya dengan orang yang menawarkan bantuan. Sebelum berangkat, aku dapat tugas dari kantor yang mau tidak mau harus membaca kasus-kasus dan data trafficking. Dan well itu sukses buat overthinking karena Kepulauan Riau salah satu tempat empuk sebagai daerah transit dan tujuan penjualan manusia. Intinya santai saja jika persiapan sudah matang, sekalipun ada hal buruk terjadi antisipasi dengan menyimpan kontak dan alamat penting daerah setempat atau menghindari tempat sepi.

Pergi ke suatu tempat asing sendirian itu menyenangkan. Serius. Tindakan yang kita pilih merupakan hasil diskusi dengan diri sendiri, banyak kontemplasi, bisa lebih kenal diri sendiri, bebas sebebas bebasnya. Kekurangannya kadang butuh temen ngobrol yang bisa diatasi dengan komunikasi via HP atau sok kenal dengan orang sekitar, selain itu tidak ada share cost jadi harus nabung jauh-jauh hari karena budget akan bengkak, dan foto-fotopun susah juga terlihat mengenaskan karena heboh sendiri untuk bisa selfie.

Mutiara – Keluarga

Beberapa minggu sebelum keberangkatan aku malah tidak bisa menghubungi Rasid. Di telepon tidak aktif di sms pun tidak terkirim. Alhamdulilahnya sebelum itu terjadi aku sudah mengantongi alamat lengkapnya. Dia belum tahu aku akan datang hari itu karena terakhir menelepon aku mengatakan akan ke sana ketika libur Idul Adha. Jadi feelingku ini akan jadi petualangan dengan bumbu kesasar dan kebingungan. It’s ok, totally excited! Bahkan saat dibayangkanpun sebelum berangkat rasanya tetep semangat.

Di Tanjung Pinang aku tidak menemukan kendala besar. Penginapan sudah di pesan dari jauh-jauh hari, merupakan kota besar yang sudah cukup maju. Mudah mendapatkan kebutuhan, transportasi beragam ada angkot, ojek, dan rental mobil/motor. Aku menginap sengaja dekat pelabuhan agar pagi-pagi buta sudah bisa ready di sana.

Setelah 10 jam terombang ambing di laut dengan segala bentuk pegal dan penat ditambah sensasi naik kora-kora dufan saat di tengah perjalanan akhirnya kakiku menyentuh Tarempa juga. Saat itu sudah pukul setengah enam sore, pelabuhan ramai karena anak-anak sekolah berpakaian pramuka berjajar menyambut kedatangan bupati Kabupaten Anambas. Aku lihat satu-satu anak yang berjajar berharap bertemu Rasid tapi kelihatannya tidak ada. Akhirnya aku melangkahlah entah kemana yang jelas mencari masjid karena belum Shalat Dzuhur dan Ashar. Disana ngobrol dengan ibu-ibu setempat yang menunggu Maghrib. Yang bikin deg deg an adalah tidak ada ibu-ibu yang tau nama jalan dan daerah yang aku tanyakan, padahal lokasinya masih satu kecamatan dan kelurahan. Dalam hati berdoa semoga aku ada di pulau yang benar. Selanjutnya yang terjadi adalah kehebohan di Masjid itu, ibu-ibu disana saling mengingat nama tempat dan menduga dimana lokasi alamat yang aku tanyakan berada. Untung tidak sampai diumumkan lewat toa masjid ada anak hilang. Bahkan beberapa diantara mereka mengajak aku bermalam di tempatnya. Tawaran menginap di rumah penduduk lokal sangat menggiurkan kalau aku tidak dalam kondisi badan remuk. Dorongan ingin istirahat lebih besar daripada keinginan mengenal rasa penduduk Tarempa. Akhirnya ada ibu yang memiliki penginapan di rumahnya, dia bersedia menelepon anaknya dan meminjamkan Honda untuk dipakai besok ketika mencari alamat (tiba-tiba keputer lagu di otak kesana kemari.. mencari alamat..jeng jeng..). First impression terhadap orang melayu disana adalah ramah dan hangat. Kepedulian dan kekeluargaannya begitu terasa.

Singkat cerita keesokan harinya aku bertemu Rasid. Dia kaget, akupun demikian. Terharu bisa bertemu lagi dengan kondisi yang berbeda. Ia tidak bisa dihubungi karena HP nya tercebur di laut.

Kabarnya luar biasa baik. Setelah keluar dari rumah sakit memaksa untuk melanjutkan sekolah. Ia belum dinyatakan survive dan belum cek darah lagi untuk meyakinkan tidak ada kanker lagi di dalam darahnya. Dia pun sadar hal itu lalu menjaga makanan dan membatasi aktivitasnya. Lepas dari riwayat penyakitnya, di sekolah ia menjadi salah satu murid yang aktif, mengikuti lomba hingga mewakili kabupaten ke tingkat provinsi untuk lomba membaca Al-Quran. Adikku ini memang hebat.

Rumah panggungnya tepat diatas laut, tenang sekali. Beberapa hari dilalui dengan memancing, ke pulau Temawan, berenang, sore ke surau lalu duduk di belakang rumah. Dari belakang rumahnya bisa langsung melihat laut jernih yang berujung pada ajuan pertanyaanku ke dia itu jenis ikan apa, ketam apa, hewan apa, bahkan akhirnya bisa melihat bagaimana cara ikan buntal membesar, membulat seperti balon. Prosesi mengenal hewan laut itu akan selesai petang saat air laut surut. Malam pun begitu senyap hanya mendengar gelombang tenang air yang tersapu angin. Bintang berserakan di penjuru langit malam di atas rumahnya, melihat bintang jatuh menjadi biasa saja di hari berikutnya karena sebelumnya kami melihat itu lalu tiba-tiba saja membahas tentang komet, meteor dan benda-benda langit bersama Rasid dan kawan dekatnya.

Pemadangan belakang rumah
Pemadangan belakang rumah

Banyak dapat pelajaran hidup dari mereka. Tentang proses, tentang menghargai alam, tentang bersyukur. Semua berjalan sederhana dan apa adanya jauh dari fasilitas serba ada, tapi mereka bahagia dan merasa cukup. Kagum sekali. Hidup disini lebih memanusiakanku dibandingkan di kota. Seperti di dunia lain, jauh beda dengan hiruk pikuk dan arogansi kota. Jika pada akhirnya kemajuan mencoba masuk lalu merusak tatanan interaksi antar penduduk dan penduduk dengan alam, egoiskah lebih memilih begini saja? Siapa aku ya, hanya orang yang melewati tiga malam saja sudah merasa tau segala.

Last but not least, bisa mengenal keluarganya dan akhirnya menjadi keluargaku adalah berkah luar biasa. Tidak semua cerita aku bagikan bukan karena tidak penting melainkan sangat penting, jadi menjaga agar tetap selalu ada ruang spesial itu penting. Intinya aku merasa menjadi manusia utuh yang bahagia. Terima kasih banyak.

Katanya, mutiara dihasilkan setelah kerang merasa kesakitan yang disebabkan karena pasir yang memasuki tubuhnya. Ia menggunakan getah di perutnya untuk membalut pasir yang melukainya. Proses itu berlangsung bertahun-tahun sampai akhirnya terbentuk mutiara. Source image.
Katanya, mutiara dihasilkan setelah kerang merasa kesakitan akibat pasir yang memasuki tubuhnya. Ia menggunakan getah di perutnya untuk membalut pasir yang melukainya. Proses itu berlangsung bertahun-tahun sampai akhirnya terbentuk mutiara.
Source image
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s