Cerita

Cerita 03 – Rasid

Dulu, teman kosanku bilang Rasid itu pacarku. Alasannya karena aku sering menghubungi dia dan begitu juga sebaliknya. Mungkin hubungan pacaran selalu identik dengan telpon-menelepon intensitas tinggi ya, kalau itu aku tak tahuuuu.. yang aku tau status kami bukan pacaran, yang aku tau dia penting (titik)

Saat itu dia berumur 9 tahun, kelas 4 SD. Dia tinggal diatas pantai daerah Anambas. Sangat suka berenang dan bermain di daerah pesisir, tanya semua jenis hewan laut–dia mungkin tidak mengenal namanya, tapi dia akan tahu karakteristik hewan itu. Laut sudah jadi bagian hidupnya kurasa. Tapi yaaa..kadang sering kali hal tak terduga datang. Tak terduga dalam hidupnya itu ketika harus ke Jakarta untuk menjalani pengobatan leukemia AML (tipe leukemia pada anak ada AML dan ALL).

Orang-orang melihat posisiku sebagai gurunya selama di rumah sakit, mudahnya begitu mendefinisikan hubungan kami. Tapi menurutku justru dia yang mengajarkanku banyak hal, jadi untuk versiku dia lah guruku. Aku kembali teringat Rasid saat ini setelah mendengar lagu favoritnya, ingin menulis semangatnya berharap siapa saja bisa belajar dari kisah tentang dia.

Pertama kali bertemu, keluar kalimat utuh yang terdiri dari subjek-predikat-objek saja tidak! Hanya “ya” dan “tidak” yang aku dengar. Bayangkan aku, dia, dan temanku (Herlin :)) duduk bersama berjam-jam, menggali apa yang dia suka dan apa yang mau dia pelajari selama ada di rumah sakit tapi yang keluar hanya ya dan tidak. Akhirnya mulut itu banyak bercerita juga setelah aku dan temanku tau laut punya pengaruh besar bagi dia, lalu menjadikan hewan pantai sebagai topik utama. Dengan logat melayu kental dia menceritakan banyak hal tentang ikan, cumi, bintang laut, kesehariannya, dan lain lain lainnya. Ia bukan anak yang dibesarkan dengan fasilitas hi-tech, ketika pasien anak lain lebih memilih untuk tetap di tempat tidur ruangannya sambil bermain gadget atau menonton tv, dia memilih untuk jalan keliling lorong bangsal sambil menarik tiang infus ke ruangan bermain, atau perpustakaan. Jenuh katanya di kamar.

Pernah ketika mengajar aku memilih aktivitas menulis, jadi pasien boleh memilih gambar yang disukai di internet, di cetak lalu mereka menceritakan melalui tulisan apa saja tentang gambar itu. Ia memilih gambar kehidupan dasar laut. Yang menarik adalah ketika proses pencetakan, ia diam dan memperhatikan printer sebelum bertanya ‘bagaimana gambarnya bisa pindah ke kertas?’ Mungkin sebagian anak kelas 4 SD di kota metropolitan akan berfikir kok dia gak tau ada benda semacam printer. Untuk memuaskan rasa penasarannya aku bongkar printer itu, mengeluarkan tinta, mencabut kabel-kabel penghubung dan menjelaskan bagaimana si printer ini berfungsi, sampai bagaimana akhirnya ada percetakan buku. Ada banyak pertanyaan lain yang membuat aku tersentak sebenarnya, karna rasa ingin tahu nya yang berlebih sampai aku harus mengakui belum bisa menjawab dan menjadikan PR untuk dijawab besoknya. Tapi hal yang lebih menyentak adalah aku dipaksa sadar kalau ceruk pemisah antara kota dan desa itu ternyata begitu lebar.

Titik kejadian yang menjadikanku fans terberatnya adalah ketika ia memaksa belajar di perpustakaan. Kalau dalam kondisi prima memang tidak masalah tapi yang menjadi masalah karena dia baru saja menjalani kemoterapi intratekal  dan BMP (Bone Marrow Puncture) di hari yang sama. Bisa dikatakan salah satu prosedur saja dilakukan itu sudah sakit dan melelahkan apalagi dua sekaligus. Wajar dan malah diharuskan pasien beristirahat pasca treatment itu. Bahkan biasanya fisik pasien saja sudah menolak untuk beraktifitas. Tapi, dia datang ke perpustakaan dengan tiang infusnya dan bilang ingin belajar. Aku beri pengertian tidak masalah lain waktu belajarnya, dia saat ini harus istirahat. Dia menolak. Aku katakan lagi. Dia menolak. Oke aku kalah, dan memberikan beberapa kegiatan yang bisa dikerjakan sementara aku kabur ke perawat untuk membantu membujuk dia agar istirahat. Lupa berapa perawat yang membujuk dia sampai akhirnya berhasil mengembalikannya ke kamar rawat inap dengan berlinang air mata, sedih keinginannya dihalangi. Di hari yang sama sebelum pulang aku menyempatkan datang kekamarnya, menanyakan memang mau belajar apa hari ini? Di kamar juga namanya belajar kalau dapat ilmu baru.. Dia bilang mau menghafal perkalian saja, aku cukup mendengarkan dan mengoreksi kalau salah. Setelah aku meng-iya-kan, dia menghafal perkalian di atas tempat tidur dengan kecepatan ekspres, posisi telentang, entah badannya rasa sakit apa, sambil diselingi segukan tangis. Dia tau apa itu semangat belajar. Dan disitu tenggorokkanku rasanya sakit (banget).

Berterimakasih dengan dia sangat amat. Karna mengajarkanku untuk tidak meredupkan rasa ingin tahu, menghargai ilmu dan keukeuh pada hal yang dianggap benar. Kangen sekali, sampai ketemu lagi ya Rasid.. .

Advertisements

3 thoughts on “Cerita 03 – Rasid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s