Cerita

Cerita 02- Tentang Kenangan

Mati. Memutus diri, memutus memori. Yang hidup mencoba menghidupkan yang mati lewat waktu lalu, dengan mengenang..

Dan itulah aku sekarang. Mengenang yang telah pergi..

Minggu lalu, satu lagi adikku, sahabatku, guruku, pergi mendahului. Alasannya karna ketetapan Tuhan. Caranya lewat kanker. Jenisnya Leukimia ALL. Terdengar menyeramkankah? Mungkin begitu. Mungkin juga tidak.

Dua minggu lalu bertemu dia, lega melihat perkembangannya dari beberapa tahun yang lalu ketika pertama bertemu. Lebih kuat, lebih tabah, lebih banyak tertawa dan bercanda sekalipun kadang dengan topik yang begitu getir tapi dia memilih untuk tertawa daripada mengeluh. Ketika menanyakan hasil lab terakhir dia jawab dengan riang kalau hasilnya bagus. Dengan segala ke sok tahuanku aku membatin, yakin kalau ia akan survive, akan kembali ke sekolah dan mengejar cita-citanya. Tapi aku salah, itu pertemuan terakhirku dengan fisik dan rohnya. Ia meninggal pada pagi hari setelah malamnya sudah berpamitan dengan orangtuanya, meminta orangtuanya ikhlas karna ia akan pulang.

Dia divonis kanker pada saat duduk di bangku SMP, ketika mungkin anak-anak pada masanya belajar, berprestasi, menghabiskan waktu bersama dengan teman dan keluarga, namun ia berbeda waktu yang dihabiskan banyak di rumah sakit dengan berbagai obat dan jarum suntik. Kenangan pertamaku ketika bertemu dengannya ketika ia ingin belajar bersama teman-teman pasien kanker lainnya, aku ingat karya pertamanya adalah sarung HP flannel dengan tulisan di depannya, warnanya ungu.

Jelas aku akan merindukannya. Rindu dia menghubungiku dan meminta datang ke RSKD selepas kerja. Akupun merindukan pasien lain yang sudah tidak ada. Sungguh. Mengenal mereka itu anugerah. Dari mereka aku mengenal ‘rasa’ apa itu syukur, apa itu sabar, apa itu harap, apa itu semangat, apa itu hidup dan apa itu mati..

Diawal waktu aku berkecimpung disana, rasanya tidak habis aku bertanya kenapa mereka yang kena penyakit itu? Dan aku tidak puas dengan jawaban logis ilmiah pediatric oncology atau semacamnya. Melihat ada anak-anak yang bahkan duduk saja belum bisa, genap setahunpun belum, tau kanker saja tidak, tapi sudah kenal rasanya sakit luar biasa fisik, psikis, dan sedih karena berbeda dengan lingkungan sosialnya.

Tapi akhirnya menemukan apa itu jawaban. Kita hidup terikat hukum sebab akibat. Setiap orang yang hadir, akan memiliki sebab bagi kita untuk berpikir, merasa, atau bertindak sehingga akhirnya meninggalkan akibat dari tindakan itu. Contohnya saja adikku yang satu ini, walaupun masa hidupnya tidak panjang, tapi dia sudah menjadi penyebab teman-temannya, orangtuanya, memberikan semangat yang terbaik semasa ia masih ada lalu ia mengeluarkan akibat dengan berusaha menjalani pengobatan dengan kuat.. Sebaliknya sebab ia sekuat tenaga berdamai dengan penyakitnya, akibatnya bagiku saat ini adalah ia meninggalkan banyak ilmu yang tidak aku dapat dari buku manapun. Mungkin tulisan ini juga menjadi akibat pertemuan kami. Terima kasih ya Salma, sampai ketemu lagi :”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s