Cerita

Cerita 01 – Judgment, Generalisasi , dan Abang Ojek

Dari judulnya seperti tidak berkorelasi, tapi personally pengalaman ini nyekokin obat multinutrisi untuk mengobati cara pandangku.

Hari itu Jumat, sekitar pukul 22.00, menuju perjalanan ke rumah. Saat itu aku berdiri di trotoar menunggu angkot dan seperti sia-sia, padahal biasanya di jam yang sama masih banyak angkot lalu lalang. Jelas aja sih, hari itu sejak pagi hujan, kondisi menuju rumah masih tergenang air cenderung banjir.

Menit ke 15 nyerah, mata udah berat dan protes juga masalahnya. Ngantuk! Balik kanan ada abang ojek yang heboh menawarkan jasanya sejak awal aku berdiri. Dalam hati pasti kondisi begini dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan menaikkan harga dengan angka tidak rasional dan ketika ditawar menyebutkan alasan-alasan pemakluman jual mahal dan diakhiri dengan mengeluarkan jurus maut dengan menyerang calon penumpangnya dengan rasa khawatir ga akan ada kendaraan yang datang. Wow parah kan asumsi negatifku!

Perlu kuberitahu detailnya? Dari tempatku berdiri sampai rumah ada sekitar 8 km, biasanya dari sana untuk kondisi normal wajar tarifnya bisa sekitar 30.000-40.000, malam itu termasuk kategori tidak normal dan tidak wajar, tarifnyapun akan mengikuti keluarbiasaan kondisi. Itu terdapat dalam standar operasional perojekan dalam rangka meningkatkan profesionalitas mereka. Pikirku, oke ini mungkin akan menjadi sekitar 50.000-70.000. Tapi eh tapi jawaban setelah aku tanya tarifnya, surprisingly, dengan muka ikhlas bapak ini menawarkan 25.000! awalnya aku pikir salah dengar, sampai beberapa kali memastikan.

Bapak paruh baya, ramah, dan membawa motor sesuai kaidah pengendara yang disempurnakan jauh dari ugal-ugalan, itu second impression ku setelah mengeluarkan early judgment di awal. Bapaknya bercerita motornya sempat mogok pagi itu karna air masuk ke knalpotnya, dan well benar saja motor itu kayaknya protes juga diberitahu kelemahannya karna dipertengahan perjalanan tiba-tiba mesin mati, menepi lalu berusaha menyalakan motor kembali. Lucu, sepanjang perjalanan seperti tertampar seiring dengan obrolan kita yang terus berkembang. Membatin, bapak ini sengaja menurunkan tarif hanya agar aku pulang. Itu kesan yang aku tangkap. Inget asumsi awalku malu sekali rasanya.

Memang tidak ada hal fisik yang tersurat selain jumlah uang yang lebih sedikit untuk membuktikan ke besar hatian bapak ini. Sebagian besar adalah bentuk tersirat yang aku tangkap dan olah sendiri, dari sikap beliau yang berbeda. But the point is belajar menghargai! Menghargai seseorang mulai dari akal dan rasa sebagai individu bukan mengeneralisir dengan profesinya, agamanya, organisasinya, sukunya apapun itu yang berkitan dengan ikatan sosialnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s