Thought

Mari Merefleksikan Diri

Hello world! Lagi-lagi menulis karena di dorong oleh orang lain. Orang yang sama lebih tepatnya dari tulisan yang aku buat pertama kali. Tidak perlu sebut mawar buat penyamaran, sebut saja dia Queen Elsa Restriana.

Yaa.. pada dasarnya perubahan simbol angka yang makin bertambah tiap tahun menandakan juga bertambahnya kuantitas pilihan hidup yang pangkalnya berdampak pada kualitas (kepuasan) hidup kita dan orang-orang sekitar.

Memilih. Dari awal mata terbuka proses memilih sudah dimulai, mau langsung bangun, snooze, atau leye-leye dulu.. Mungkin sepele ya.. tapi memilih itu semakin terasa pengaruhnya ketika memutuskan sesuatu yang abstrak dan berbuntut konsekuesi setelahnya.

Nah, ternyata eh ternyata galau itu datang sebagai terminologi yang tepat dalam menggambarkan variabel lain yang muncul di tiap sela pra memilih, memilih, dan pasca memilih. Oke ini semacam teori yang rada aneh tapi itu terjadi seenggaknya padaku sendiri.

Banyak yang menyayangkan aku memilih pekerjaan sekarang disamping banyak juga yang mendukung, sebut saja pekerjaanku pegawai pemerintah. Memang ini bukan pilihan utamaku, but it’s ok dengan segala pertimbangan aku belajar menerima peran itu dan sekalipun ada hal-hal yang membuatku ingin lepas itu sebatas candaan anak bawang yang belum sepenuhnya beradaptasi dengan pekerjaan baru, tidak pernah serius. Sampai pada akhirnya ada yang menkonfrontasi dengan pertanyaan terarah ini;

“Milih pekerjaan apa awalnya?” (NGO).

“Masih tertarik dengan pilihan pekerjaan yang ditinggalin?” (Masih)

“yaudah selagi belum diangkat keluar lah.” (Hahahaa)

“pilih pilihan pertama aja.” (hening)

Percakapan biasa tapi entah gimana sedetik itu pikiranku melanglang buana ke pelosok, bekerja untuk dan dengan anak-anak disana. Itulah galau. Ketika kita mulai tidak yakin, tidak menghormati pilihan hidup sendiri ditambah terpengaruh oleh parameter orang lain.

Bekerja itu jadi hal prinsipiil (menurutku), mengingat dari pekerjaan kita tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan hidup tapi untuk aktualisasi diri, gimana engga bekerja menyita sebagian waktu dalam 24 jam. Kalau kita bekerja “hanya” untuk uang sungguh sayang sekali saudara-saudara.

Memulai, menghargai dan mengakhiri pilihan itu memang harus belajar. Keluar juga salah satu  pilihan sih, tidak salah, tapi ‘apa alasan dasarnya’ itulah yang menjadi patokan layak atau tidaknya suatu keputusan. Pasti aku akan keluar dari pekerjaanku sekarang entah kapan, bisa karena pensiun atau alasan lainnya, tapi tidak untuk alasan BOSAN atau MENYESAL. Sejujurnya berkat percakapan itu jadi inget lagi alasan kenapa memilih pekerjaan ini dan untuk apa? Hemm..

Tidak ada yang salah dengan tempatku bekerja sekarang, sekalipun banyak berita miring harus aku tegaskan itu oknum, banyak orang baik berdedikasi di dunia pemerintahan yang tidak ditangkap mikrofon dan lensa wartawan. Hanya saja tiap orang kan punya potensi dan minat masing-masing. Misal aku suka kerja lapangan tapi sebagian besar waktu dihabiskan di depan komputer itu sejenis kebosanan tiada tara tapi pertanyaannya apa itu bisa dijadikan dasar? Kalau digambarkan ada tiga hal yang menentukan kepuasan dalam memilih pekerjaan (ini teori sumbernya dari pengalaman pribadi dan baca-baca artikel di internet :p) ; (1) pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhan finansial untuk dikonversi ke kebutuhan dasar, (2) passion, kegiatan yang membuat kita lupa waktu dan selalu semangat menggebu mengerjakannya dan, (3) keahlian pada sesuatu, sejauh mana kita bisa mengerjakannya dengan efisien dan efektif. Hal penting lain adalah invisible hand, zat yang menjadi tujuan akhir pilihan kita penentu takdir dan visible hand, restu orang tua.

Diagram Venn

Oke, besar kemungkinan kegalauan itu muncul karena passion ku belum sepenuhnya ada di sini. Walaupun dengan sistem kerja ala ala kantoran yang membuat warna kerja beda tapi itu bisa diusahakan karena isu yang dibahas dan tujuannya masih relevan. Setidaknya aku memulai dengan tekad dan cara yang baik maka akhirnya juga harus demikian..

Yuk mari belajar berani memilih, menghargai pilihan sendiri dengan memaknai pilihan itu sendiri.

Dalam novel Pulang Leila S. Chudori:
Lebih mudah untuk tidak memilih, seolah tak ada konsekuensi. Tetapi seperti katamu,memilih adalah jalan hidup yang berani (pg.448)

(Menjadi catatan pribadi jika galau muncul kembali)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s