About Children · Thought

Belajar dari “The Little Prince”

“Grown-ups never understand anything by themselves, and it is tiresome for children to be always and forever explaining things to them” — Antoine de Saint-Exupery

Kalau ingin merasakan (kembali) bagaimana cara pikir anak-anak, The Little Prince (French: Le Petit Prince) karya Antoine de Saint-Exupery salah satu rekomendasi buku yang akan menjadi pusaran waktu untuk mengembalikan ingatan orang dewasa menjadi anak-anak kembali.  Jadi inget potongan iklan disalah satu halte bis “when adult grow to be child...” dan kalimat itu sukses bikin aku mikir seharian. Alih-alih merasakan perasaan negatif (yang sering dilontarkan orang dewasa kepada orang dewasa lain yang bersikap tidak wajar: “kaya anak TK aja Lu”), aku malah merasa interpretasi kalimat ini positif. Anak-anak pada umumnya tidak manipulatif dan apa adanya. Anak menilai orang lain bukan dari indra penglihatan saja seperti barang yang digunakan (branded kah?), bentuk fisik, warna kulit, bahkan agama dan ideologi.

Tulisan ini bukan bermaksud mengulas keseluruhan buku The Little Prince, hanya ingin membahas dua halaman di dalamnya yang sayang kalau dibahas sekilas. little_prince_boa_constrictor

Pernah gak sih kita – sebagai orang dewasa merasa atau bertindak seolah lebih mengetahui segalanya dibandingkan anak-anak? Lebih benar pendapatnya daripada yang dilontarkan anak-anak? Atau pernah ingat saat usia anak, idenya, pendapatnya dikecilkan oleh orang dewasa dengan kalimat sakti ‘anak kecil tahu apa sih?’ Lalu pada akhirnya kita dimasa kecil berusaha menjadi dewasa, terlihat dewasa dengan meniru orang-orang dewasa, sambil diam-diam mengharap cepat dewasa tidak mau dianggap anak-anak…

Gajah yang berada dalam jalur pencernaan boa mengingatkan akan imajinasi dan khayalan masa kecil. Imaji anak yang kadang orang dewasa merasa tidak perlu tau dan merasa perlu untuk membentuk pikiran anak menjadi ‘lebih dewasa’? Dalam cerita, anak mencoba menjelaskan kembali ide yang tidak dimengerti orang dewasa dengan menggambar perut ular dengan perspektif dari dalam. Dalam gambar kedua terlihat gajah dengan mata dan belalainya. Apa respon orang dewasa dalam cerita setelah ditunjukkan gambar kedua?

The grown-ups’ response, this time, was to advise me to lay aside my drawings of boa constrictors, whether from the inside or the outside, and devote myself instead to geography, history, arithmetic and grammar. That is why, at the age of six, I gave up what might have been a magnificent career as a painter. I had been disheartened by the failure of my drawing number one and my drawing number two. Grown-ups never understand anything by themselves, and it is tiresome for children to be always and forever explaining things to them.

Dengan kita menghargai anak minimal mendengarkan sejenak saja ide mereka maka kita sudah menjadi bagian investasi untuk membiarkan anak-anak tumbuh dengan mimpi besar di masa yang akan datang. Mari sekejap saja kembali tumbuh menjadi anak-anak untuk mencoba memahami apa yang mereka butuhkan 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s