Thought

Eksistensi

ek·sis·ten·si /éksisténsi/ n hal berada; keberadaan

Eksis menjadi begitu menggiurkan, karenanya, seseorang diantarkan pada hal lain yang lebih dari sekedar diketahui, dikenal, diakui.. sekarang eksis menjadi lebih praktis tidak perlu repot untuk menghadirkan fisik dan berlama-lama tampil dihadapan orang langsung untuk membuktikan keberadaannya.. dunia maya, layar kaca, lembar koran siap sedia memperluas keeksisan seseorang..

Bukan cuma menuju Roma yang memiliki banyak jalan, banyak pilihan juga untuk bisa eksis. Belakangan melihat, mendengar, merasa orang-orang mulai menyusun rencana eksistensinya. Ada yang berencana tulisannya dimuat di media, ada yang rajin update kegiatan hariannya di media sosial, ada yang berkarya lewat penelitian ilmiah, aktif menyapa, mengemukakan pendapat, mengejar prestasi melalui kompetisi, mengejar jabatan, dan lain-lain-lain sebagainya..

Untuk eksis (dan diterima keeksisannya) ternyata bukan hal yang mudah juga. Ada yang memandang negatif entah narsis, cari muka, ke-pd-an, sok, sombong dan respon lain yang mengecilkan. Bisa juga hal internal yang menghambat seperti sulit berbagi pemikiran, karya, tampil di depan orang baru atau orang banyak.. atau bisa jadi juga dua alasan itu terkait hubungan sebab-akibat… yaaah apapun alasannya setiap manusia berbeda dan karna kita hidup di dunia manusia maka aturan manusialah yang berlaku, Interaksi–saling memberi aksi dan reaksi.. Sebenarnya lebih menyenangkan dan nyaman eksis di tengah orang terdekat saja :p tapi atas saran seseorang—kakakku/temanku, mengenai dunia tulisan, ternyata pilihan untuk berbagi melalui jalur ini menarik juga.

Kenal dengan Om Van Gogh? Van Gogh diakui keberadaannya secara luas melalui karyanya yang dinilai berseni tinggi dan tidak sedikit yang berani membayar mahal lukisannya. Tapi, pengakuan itu baru ada ketika eksistensi fisiknya sudah tidak ada di dunia. Semasa hidup, ia dan lukisannya tidak pernah diakui dan ditolak oleh orang-orang — karena pilihan warna lukisannyanya tidak sesuai dengan selera pasar saat itu. Ia depresi, merasa terasing, bahkan dalam beberapa sumber dikatakan ia mengalami delusi dan kesehatan mental, hingga akhirnya eksistensinya ditutup dirinya sendiri oleh peluru yang menembus dadanya.

Sepertinya memang perlu ya mencari jalan sendiri ingin menjadi apa dengan cara apa dan dikenang seperti apa ketika masih ada di dunia.. Kembali lagi ke topik, dari tak terhingganya jumlah blog yang oke punya biarlah satu blog ini meramaikan dan jadi bagian orang-orang yang merekam jejak eksistensinya melalui tulisan—yang bisa dinikmati bahkan ketika pembuatnya sudah tidak ada. Alasan lainnya tidak muluk-muluk, untuk jadi evaluasi pribadi, bisa saling berbagi ilmu, pemikiran dan pengalaman.. Semoga bisa jadi eksis dengan esensi ya.. anyway enjoy reading!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s